Selamatan Mitoni atau Tingkepan

Memuat...
Selamatan Tingkep, Tingkepan atau disebut mitoni adalah selamatan untuk usia kandungan tujuh bulan. Hari dan tanggal yang dipilih untuk upacara Tingkepan adalah hari Rabu atau Sabtu, tanggal ganjil sebelum tanggal 15. yang perlu disiapkan dalam upacara Tingkepan adalah:

Racikan air di pengaron atau jambangan kecil. Air tersebut diambil dari tujuh sumber mata air dari tempat-tempat keramat, satu diantaranya adalah sumber mata-air setempat. Kemudian, tujuh sumber mata air yang sudah dijadikan satu tersebut diberi bunga mawar, bunga melati, bunga kanthil dan bunga kenanga
Cidhuk atau gayung yang dipakai untuk menyiram dibuat dari tempurung kelapa yang masih ada kelapanya
Tujuh macam konyoh (penggosok badan dari tepung beras dan kencur dicampur mangir sejenis lulur, daun pandan wangi dan daun kemuning) yang masing- masing diberi warna yaitu: merah, hitam, putih, kuning (makna nafsu manusia), merah muda (campuran dari warna merah dan putih. Warna merah adalah symbol dari sel telur Ibu dan warna putih menyimbolkan sperma bapak), biru (melambangkan langit atau awang-uwung), dan ungu (kehidupan sempurna).
Dingklik di beri alas klasa bangka (tikar kecil ukuran 40 x 40 cm yang dibuat dari anyaman daun mendhong) Dedauan yang terdiri dari : Daun apa-apa, adalah merupakan doa harapan agar tidak terjadi apa-apa yang mencelakakan. Daun kara, agar terhindar dari sakara- kara segala mara bahaya. Daun kluwih, agar linuwih, mempunyai kemampuan lebih, daun dadapsrep, agar sejuk damai, dan daun alang-alang, agar tidak mendapatkan halangan satupun. Beberapa jenis kain ukuran kira-kira 40 cm persegi yaitu: letrek (kain kuning) jingga (kain merah), bango-tulak, (kain putih tepinnya biru) sindur (kain putih tepinya merah), sembagi (kain bermotif bunga), slendhang lurik puluh watu (slendhang lorek putih hitam) yuyu sekandang (kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning) dan mori putih
aneka sesaji yang terdiri dari : 1. jajan pasar, 2. jenang abang, 3. jenang putih, 4. jenang baro-baro, 5. jenang procot, 6. nasi kering, kedhele, wijen dan kacang digoreng sangan (tanpa minyak), 7. emping ketan digoreng sangan dan dicampur rautan gula Jawa.
Tumpeng Robyong: yaitu nasi putih yang dibentuk kerucut, dililiti kacang panjang dari bawah melingkar-lingkar sampai atas dan di atasnya diberi telor ayam kampung, terasi dan cabai merah panjang. Nasi kerucut yang dinamakan tumpeng tersebut. dikelilingi aneka sayuran yang sudah direbus ; bayam, kobis, kecambah, wortel dan buncis, serta lauk-pauk; tempe, teri, telur, dan bumbu gudangan yang dibuat dari parutan kelapa diberi bumbu dapur dan dikukus. Bumbu dan lauk-pauk tersebut dicampur menjadi satu dengan aneka sayuran. Rangkaian Tumpeng robyong yang dikelilingi campuran sayuran, bumbu dan lauk-paulnya merupakan manifestasi dari pengadukan samodra yang dilakukan oleh para dewa, dalam upaya mencari tirta amerta atau air hidup abadi. Dikarenakan Tirta Amerta berada didasar samodra, maka untuk mengambilnya laut perlu diaduk agar Tirta Amerta naik ke permukaan. Yang dipakai mengaduk adalah gunung Mandara atau ada yang menyebut Gunung Meru, digambarkan nasi putih dibentuk kerucut. Cabai merah panjang menggambarkan api yang keluar dari kawah gunung Mandara. terasi menggambarkan racaun yang terangkat dari dasar samodra. telor adalah gambaran tirta amerta. Kacang panjang menggambarkan Dewa Naga Basuki yang sedang melilit dan memutar gunung untuk mengaduk samodra. Aneka sayuran, lauk pauk dan bumbu gudangan adalah isi bawah laut. Tumpeng robyong menggambarkan bahwa proses pengadukan dalam upaya mencari tirta amerta sedang berlangsung. seluruh isi dasar laut bercampur terangkat ke permukaan digambarkan dengan gudangan. bersamaan dengan terangkatnya seluruh isi lautan terangkat pula kotoran atau racun yang mematikan. Para mengira bahwa cairan kental berwarna kecoklatan tersebut adalah tirta amerta dan ingin segera meminumya. Mengetahui para dewa dalam bahaya, Batara Guru dengan cepat menyambar racun tersebut dengan mulutnya. para dewa selamat dari racun yang mematikan. namun akibatnya racun yang masuk sampai ke leher membuat leher Batara Guru berwarna ungu. sejak saat itu Batara Guru diberi sebutan Sang Hyang Nilakantha. Setelah racun diamankan, para dewa melajutkan pengadukan samodera dan pada akhirnya membuahkan hasil yaitu tirta amerta. para dewa meminumnya dan mereka hidup abadi dan tak akan mati.
Penyon : dibuat dari tepung beras di adoni dengan santan kelapa, diberi macam- macam warna : kuning hitam putih merah hijau orange, di lentreng- lentreng bersap-sapan. lalu dikukus dan di iris-iris.
Sampora : tepung beras diadoni dengan santan, dibentuk tempurung tengkurep seperti bulus, di dalamnya diberi gula Jawa, lalu di langseng (nama peralatan untuk megukus)
Pring sadhapur : tepung beras diliwet matang dan dibuat tumpeng-tumpengan sebanyak 9 buah, lalu diberi roda-roda kecil sebesar ibu jari dari tepung beras dan diberi aneka warna.

Related Post



Tidak ada komentar:

Postingan Populer