Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah

Memuat...
Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah

Artinya: Dalam kesatuan ukuran hidup sentosa, dalam perselisihan hidup sengsara/rusak

Saat terjadi diskusi politik di media televisi, para politikus berteriak-teriak sambil menunjuk lawan bicaranya, dan yang lain ikut mensoroki, terkesan memang inilah yang patut di pertontonkan akan moral sebenarnya manusia Indonesia. Dalam arti jika kita melepaskan semua sekat dan aturan atau formula dalam kehidupan ini (tanpa hukum), maka secara jelas bahwa sikap mental dan kondisi batin yang apa adanya yang menunjuk pada tingkah laku yang berselisih, ketidak puasan, iri, dengki, ingin mengalahkan. Inilah kita, ya.. inilah kita yang belum hidup dalam kesatuan ukuran..
Sehari-hari kita banyak hidup dengan memakai topeng, karena kita masih memelihara prinsip mental yang tidak “Rukun”. Ternyata kita masih dalam tingkatan merusak.
Namun demikian, beberapa cahaya walau kecil bersinar dari orang-orang yang mau tetap Rukun atau hidup dalam berkesatuan ukuran, menjadi secerca harapan bagi terciptanya Ke-Sentosa-an hidup. Apakah anda adalah salah satunya? Apakah anda MAU menjadi bagian darinya?
Jika IYA maka terSENYUMlah dan lepaslah dari segala masalah.
Seorang bijak berbisik pada saya puluhan tahun lalu:
“Aku adalah AKu yang apa adanya, itu sudahlah cukup…
Walaupun tidak ada yang pedulikan aku didunia ini, aku tetap puas, sebab Aku senang bukan karena dunia ini baik adanya, tetapi dunia ini baik adanya karena Aku Senang”.
Perenungan yang baik untuk bisa kita saling tetap RUKUN.

Dalam kehidupan berumah tangga, “Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah”, saat terjadi perselisihan, segeralah selesaikan dengan Komunikasi yang efektif dan tetap tersenyum, jangan biarkan perselisihan sampai matahari melewati ubun kita atau matahari melewati telapak kaki kita. Jangan Menunda.

Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), pendidikan atau transfer pengertian sangat dipentingkan adalah untuk mengajarkan Kesatuan Ukuran dalam konteks tidak mengedapankan maksud-maksud/pengertian dasar, yang cenderung merusak atau agresif brutal.

Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), selalulah adanya membuka tali silaturami dengan prinsip ajaran Budhi yang saling Asah, Asih, Asuh.

Related Post



Tidak ada komentar:

Postingan Populer