80 Kerangka Gladiator Ditemukan Di Inggris

Memuat...
Temuan kerangka kuno di bawah kota York di Inggris Utara menyimpan pertanyaan besar arkeolog. Sebanyak 80 kerangka yang ditemukan sejak 2003 itu sudah dalam tanpa tengkorak alias dengan kondisi kepala terpenggal.

Seperti dilansir National Public Radio edisi 7 Juni 2010, arkeolog bertanya-tanya, apakah mereka telah menemukan kuburan para gladiator Romawi yang gugur. Sebab, kerangka-kerangka itu tidak berkepala.
Asumsinya, kerangka itu adalah mayat yang kepalanya telah dipenggal. Terlebih lagi ada bukti tanda gigi hewan besar di beberapa tulang, menunjukkan gigitan Singa atau Harimau.

"Itulah alasan utama peneliti mengira kerangka itu adalah gladiator yang kalah dan gugur," kata John Walker, kepala eksekutif York Archeological Trust, yang melakukan penelitian di tempat itu.

Ada pula petunjuk lain yang bisa menguatkan dugaan bahwa mereka itu gladiator. Bukti itu yakni rata-rata ukuran salah satu lengan lebih besar dari yang lain, dan tulang-tulang itu secara keseluruhan lebih panjang dari tulang pada umumnya.

"Mereka adalah orang-orang besar pada waktu itu, dengan tinggi 5 sampai 8 kaki, mereka dua inci lebih besar dari rata-rata manusia," ujar Walker. "Semua ini orang-orang kokoh besar, semuanya telah dipenggal."

Walker mengatakan bentuk dan ukuran tulang seseorang mempengaruhi postur ototnya. "Orang yang kurus akan memiliki tulang sangat mulus tanpa ada gunungan-gunungan nyata," kata dia. Berbeda dengan seseorang yang sangat berotot, tulangnya akan terdapat gunungan dan benjolan besar.

Ada juga bukti lainnya yang memungkinkan gladiator pernah bertempur di Inggris utara selama Kekaisaran Romawi. Pada periode masa antara abad ke-2 dan ke-3, wilayah Inggris Utara memang berada di bawah kekuasaan orang-orang Roma.

"Kami percaya ada sebuah tempat di York yang mungkin dulunya arena, tapi kami belum menemukan itu," kata Walker. Tetapi Ada beberapa prasasti batu, kuburan yang terdapat ukiran gladiator juga di batu makam.

Pada tanggal 14 Juni, para peneliti rencananya meluncurkan situs yang memaparkan bukti-bukti, sehingga masyarakat diharapkan bisa ikut berpendapat setuju atau tidak.

Cara itu dianggap baik untuk mengenalkan masalah arkeologi kepada publik, kata Walker. "Semua laporan kami menyeimbangkan probabilitas. Masa lalu selalu tetap suatu hal yang tidak diketahui," kata Walker. (np)• VIVAnews

Related Post



Tidak ada komentar:

Postingan Populer